Futur

Diposkan oleh dragon on Sabtu, 08 Oktober 2011

type='html'>

Ini Merupakan kisah salah satu teman saya yang saya dapat dari email,,,,silahkan dibaca :

Aku mengalami futur berat hari ini. Butuh chargeran iman tapi siapa yang bisa mencharger imanku? Aku butuh seseorang yang bisa membangkitkan kembali semangatku. Aku mendesah... memandang ke langit-langit. Berharap agar ALLAH menggerakkan hati seseorang untuk menjadi perantara tarbiyah-NYA.

Lambat laun, aku melihat seseorang yang sudah lama ku tunggu. Orang itu melihatku, sepertinya ia tahu apa yang ku butuhkan. Dia menghampiriku dan aku menghampirinya. Kami duduk berhadapan. Terdiam.

“Kenapa?” tanyanya memecahkan keheningan diantara kami. Tanpa ku jawab, aku yakin dia tahu kondisiku. “Futur lagi?”

Aku mengangguk. Perlahan mulai menunduk. Rasanya tak sanggup untuk mengatakannya.

Afalaa ta’kiluun?” tanyanya dengan nada menyindir. Kepalaku menegak, apa maksudnya? Mengapa dia bertanya apakah aku tidak berpikir?

Orang ini masih menatapku dengan mata yang membuat mental jatuh. Aku memberanikan diri menatap matanya. Aku sudah tidak berminat untuk bicara ataupun bertanya. Maka keheningan kembali merayapi suasana kami. Hening.

“Apakah kamu tidak memikirkan buat apa senior Rohismu memintamu untuk menghapal surat ash-shaf ayat satu sampai lima?” tanyanya lagi. “Bertujuan agar kamu berpikir... berpikir bahwa semua ucapanmu harus kamu tepati. Lima takuuluuna maalaa taf’aluun?”

Masih terdiam, merenungi nasihatnya yang semakin nyelekit.

“Bukan Cuma omong kosong belaka. Kamu beri mereka nasehat dan kamu suruh mereka. Apakah kamu juga melakukan suruhan itu? Atau hanya di bibir saja? Hanya untuk mencari muka?”

Hatiku mulai panas dan rasa beku itu mencair. “Astaghfirullah. .. aku tidak seburuk prasangkamu. Aku sudah punya muka dan tak perlu mencari lagi. Aku hanya ingin berbagi walaupun sebagian yang aku katakan jarang aku kerjakan.”

“Itulah... menjadi manusia itu tidak mudah. Banyak peraturan dan banyak kewajiban. Sekali saja imanmu runtuh maka sulit untuk kembali utuh.”

“Lalu bagaimana imanku bisa utuh kalau suasana ini tidak begitu kondusif?” dengan berat aku bicara juga meskipun agak dongkol, karena dia tidak merasa bersalah mengatakan aku hanya mencari muka. Memang ada berapa muka yang bisa dicari untuk dipakai?

“Bagaimana iman kamu bisa utuh? iman Kamu tidak akan bisa terus utuh kalo menunggu suasana kondusif. Suasana seperti itu jarang didapat meskipun pernah ada dalam kehidupanmu. Kamu harus memulai dari sekarang, mulai dari diri kamu sendiri dan mulailah dari hal-hal kecil. Melihat dan mengambil pelajaran dari berbagai pengalaman.”

Bola mataku berputar kebawah. Mencerna setiap kata-katanya yang memakai bahasa T++ (bahasa tingkat tinggi). Ku rasa kemampuan otakku mulai menurun dan harus di-upgrade lagi.

Orang ini menghela nafas dan melanjutkan, “Aku pun tidak lebih pintar darimu. Kita setara maka carilah orang lain yang bisa memberimu nasehat tarbiyah dengan lebih baik. Semoga dari mereka kamu bisa mengambil banyak pelajaran.”

Aku tak mengerti. Orang ini benar-benar sulit untuk ku mengerti tapi anehnya dia selalu mengerti keadaanku. seperti mengerti tentang apa yang ada dalam denyutan otakku.

“Berdirilah. Bangkitah... Tapi ingat ya, waALLAHu laa yahdil qoumal faasikiin.” Katanya sambil tersenyum menatapku yang masih tertatih-tatih mentranslate arti dari rangkaian ayat itu.

Ketika aku berdiri, dia pun berdiri. Dalam hati aku senang sekali karena dia mau berbagi. Sampai kapan pun aku suka dengan sindirannya yang nyelikit dan bikin sakit tapi bisa membuatku bangkit.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...