Male Feminis Dan Kontra Male Feminis Dalam Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk Karya Ahmad Tohari (PBI-5)

Diposkan oleh dragon on Kamis, 06 Oktober 2011

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Karya sastra adalah salah satu jenis hasil budidaya masyarakat yang dinyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulis, yang mengandung keindahan. Karya sastra diciptakan pengarang untuk dinikmati, dipahami, dihanyati, dan dimanfaatkan oleh masyarakat pembacanya. Pengarang itu sendiri adalah anggota masyarakat dan lingkungannya, ia tak bisa begitu saja melepaskan diri dari masyarakat lingkungannya.


Novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari yang mengangkat persoalan perempuan dan menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan (Srintil) dalam menggapai kehidupan yang diinginkannya. Selanjutnya, tokoh perempuan itu juga bertemu dengan banyak tokoh laki-laki yang mempunyai karakter yang berbeda-beda, karakter yang mendukung tokoh perempuan dan karakter yang menghambat kebahagiaan tokoh wanita..

Karya sastra, seperti diakui banyak orang, merupakan suatu bentuk komunikasi yang disampaikan dengan cara yang khas dan menolak segala sesuatu yang serba “rutinitas” dengan memberikan kebebasan kepada pengarang untuk menuangkan kreativitas imajinasinya. Hal ini menyebabkan karya sastra menjadi lain, tidak lazim, namun juga kompleks sehingga memiliki berbagai kemungkinan penafsiran dan sekaligus menyebabkan pembaca menjadi “terbata-bata” untuk
berkomunikasi dengannya. Berawal dari inilah kemudian muncul berbagai teori untuk mengkaji karya sastra, termasuk karya sastra novel.
Novel merupakan sebuah “struktur organisme” yang kompleks, unik, dan mengungkapkan sesuatu secara tidak langsung. Hal inilah, antara lain, yang menyebabkan sulitnya pembaca menafsirkan sebuah novel, dan untuk keperluan tersebut dibutuhkan suatu upaya untuk menjelaskannya disertai bukti-bukti hasil kerja kajian yang dihasilkan.

Novel merupakan salah satu jenis karya sastra prosa yang mengungkapkan sesuatu secara luas. Berbagai kejadian di dalam kehidupan yang dialami oleh tokoh cerita merupakan gejala kejiwaan.
Manfaat yang akan terasa dari hasil kajian itu adalah apabila pembaca (segera) membaca ulang karya sastra yang dikajinya. Dengan cara ini akan dirasakan adanya pembedaan: ditemukan sesuatu yang baru, yang terdapat dalam karya sastra itu sebagai akibat kekompleksitasan karya yang bersangkutan sehingga sesuatu yang dihadapi baru dapat ditentukan. Dengan demikian, pembaca akan lebih menikmati dan memahami cerita, tema, pesan-pesan, tokoh, gaya bahasa, dan hal-hal lain yang diungkapkan dalam karya yang dikaji (Nurgiyantoro 1995: 32).

Dalam kesusastraan Indonesia modern banyak pengarang yang menghasilkan cerita fiksi, sebagai contoh dapat disebutkan di antaranya Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari dan Jantera Bianglala karya Ahmad Tohari, Para Priyayi karya Umar Kayam. Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG serta Roro Mendut karya J.B. Mangunwijaya. Kebanyakan inti cerita
dan karya-karya itu tentang etika Jawa dan persoalan wanita Jawa yang masih memegang teguh nilai-nilai dan pandangan hidup wanita Jawa.

Karya sastra yang dijadikan objek kajian penelitian ini adalah novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari karena novel tersebut menempatkan wanita sebagai tokoh utama meskipun masih dipengaruhi tokoh pria. Tokoh wanita dalam novel Ahmad Tohari adalah sosok wanita yang penuh dengan permasalahan yang harus dihadapi. Masalah cinta, rumah tangga, asal usul, dan kebahagiaan yang masih dihadapi dan harus dipecahkan oleh sang tokoh.

Lebih lanjut, Srintil ingin mempertahankan sesuatu yang menjadi haknya. Ia ingin berhenti menjadi ronggeng dan menjadi perempuan seutuhnya, menikah dan mempunyai anak. Srintil sebagai ronggeng harus melakukan pengorbanan, ia mengorbankan sebuah kesucian dalam acara Bukak-Klambu. Kartareja telah menyanyembarakan kesucian Srintil pada laki-laki yng bisa memenuhi syarat.

Pembaca menyukai novel-novel Ahmad Tohari karena kemenarikan ceritanya. Ahmad tohari sering mengangkat tema tentang kehidupan masyarakat lapisan bawah yang disajikan dengan gaya bahasa yang mampu menghidupkan suasana cerita dan mudah dipahami pembaca. Ahmad Tohari bisa melahirkan karya yang mengangkat kesukaran hidup kaum bawah karena pengalaman hidup yang sangat berkesan, terutama yang mengangkat tentang kemelaratan para tetangga, kebodohan, serta ketidakberdayaan mereka keberpihakan Ahmad Tohari terhadap wong cilik seakan menjadi obsesinya yang tidak pernah berkesudahan.

Pribadi-pribadi yang terwujud dalam diri tokoh-tokoh manusia Jawa dalam karya Ahmad Tohari merupakan cerminan dari kepribadiannya selaku pengarang dalam pergulatannya dengan pengalaman hidup. Ahmad Tohari memang tinggal dan dibesarkan di daerah Jawa, tepatnya di daerah Jati Lawang, Banyumas, sehingga wajar bila nilai kultur Jawa yang melatarbelakangi hidupnya sangat lekat dan kentara mewarnai hampir dalam semua karyanya.

Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk terdiri dari tiga episode yaitu episode pertama berjudul Ronggeng Dukuh Paruk, episode kedua diberi judul Lintang Kemukus Dini Hari, dan yang ketiga adalah Jantera Bianglala. Menurut pengarangnya, novel Ronggeng Dukuh Paruk sengaja dipersiapkan untuk menjadi trilogi, ketika menulis episode pertama, pengarang mengakui mengalami kebuntuan untuk menyelesaikan dalam sebuah trilogi sekaligus. Novel tersebut berkisah tentang dunia Ronggeng Dukuh Paruk. Tokoh-tokohnya adalah Srintil dan Rasus yang menginjak dewasa pada sekitar tahun 1965. Sekian tahun sebelumnya, Dukuh Paruk adalah sebuah desa kecil yang terpencil dan terbilang miskin. Namun, segenap warganya memiliki suatu kebanggaan tersendiri karena mewarisi kesenian ronggeng yang senantiasa menggairahkan kehidupan. Tradisi itu nyaris musnah setelah terjadi musibah keracunan tempe bongkrek yang mematikan belasan warga Dukuh Paruk. Untunglah mereka menemukan kembali semangat kehidupan setelah gadis cilik Srintil pada umur belasan tahun secara alamiah memperlihatkan bakatnya sebagai calon ronggeng (Yudiono 2003: 17-
18).

Lebih jauh, novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari sepertinya ingin menunjukkan sisi lain dari kehidupan perempuan, sebuah fenomena yang jarang terjadi ketika sosok perempuan dengan tekad dan kegigihannya berusaha keluar dari jeratan nasib yang kurang memihaknya. Hal lain, novel ini banyak mengangkat tokoh laki-laki untuk secara bersama-sama memerangi suatu ketidakadilan, baik yang berasal dari sosok laki-laki maupun sosok perempuan itu sendiri. Laki-laki dan perempuan adalah sosok yang secara maknawi mereka sama, konstruksi sosial di masyarakatlah yang menyebabkan mereka diperlakukan berbeda.
Dalam waktu singkat, Srintil membuktikan kebolehannya menari disaksikan orang-orang Dukuh Paruk sendiri. Srintil sebagai seorang ronggeng, harus menjalani serangkaian upacara tradisional yang puncaknya menjalani upacara bukak klambu, yaitu menyerahkan keperawanannya kepada siapapun lelaki yang mampu memberikan imbalan paling mahal.

Selama ini perempuan dipandang sebagai sosok yang lemah. Banyak anggapan yang beredar di masyarakat tentang diri perempuan itu sendiri yang menyebabkan perempuan semakin terpinggirkan. Adanya anggapan bahwa sosok perempuan itu irrasional atau emosional sehingga perempuan tidak bisa tampil memimpin, berakibat munculnya sikap yang menempatkan perempuan pada posisi yang tidak penting. Laki-lakilah yang dianggap dominan yang berada di pusat. Perempuan hanya sebagai kanca wingking atau dalam istilah bahasa jawanya “swargo nunut neroko katut” (Fakih 2003: 12).

Srintil merupakan sosok wanita yang berparas cantik. Sejak usia sebelas tahun ia sudah menjadi Primadona karena menjadi ronggeng. Kecantikan Srintil banyak menrik perhatian orang terutama kaum laki-laki. Mereka rela mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk sekedar bertayub dan tidur dengan Srintil.

Perbedaan yang jelas antara konsep jenis kelamin (sex) telah melahirkan ketidakadilan, baik kaum laki-laki dan terutama perempuan. Disadari atau tidak, ketika gagasan feminis ini dilihat secara sekilas, sepertinya perempuanlah yang menjadi korban konsep-konsep gender tersebut. Laki-laki bisa menjadi feminis jika sikap dan tingkah laku mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Namun, tatkala istilah male feminis dimunculkan, akan ada sebuh oposisi yang menyatakan perlawanan dari male feminis yang bisa disebut dengan istilah kontra male feminis. Sikap laki-laki yang kontra male feminis terlihat dari tingkah laku mereka yang tidak menghargai perempuan, bahkan cenderung semena-mena (Adian dalam Subono 2001: 26).

Dominasi tokoh laki-laki cukup mewarnai novel Ronggeng Dukuh Paruk tersebut Srintil banyak melibatkan tokoh laki-laki. Pada kenyataannya tokoh laki- laki ada yang mendukung atau yang disebut male feminis dan ada pula yang tidak mendukung dan disebut kontra male feminis. Namun, seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa tokoh kontra kontra feminis lebih dominan dibanding dengan laki-laki yang male feminis. Tokoh male feminis inilah yang banyak membantu tokoh perempuan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Mereka dalam bersikap dan tingkah lakunya sangat menghormati dan menghargai perempuan.

Jadi, laki-laki pun bisa menjadi feminis jika tingkah laku mereka menunjukkan sikap menghargai dan menghormati perempuan. Dan laki-laki bisa menjadi kontra male feminis jika mereka menunjukkan sikap tidak menghargai dan menghormati perempuan. Terlihat jelas bahwa laki-laki dan perempuan perlu berkolaborasi untuk membangun sebuah masyarakat yang bebas dari diskriminasi dan hal ini jelas terlihat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk adalah Srintil, Rasus, Ki Kertareja, Bajus, Marsusi, Sakarya, Sulam, Dower, Warta, Darsun, dan lain-lain. Deretan nama-nama dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk telah mampu memerankan perannya dengan baik. Hampir semua tokoh yang dimunculkan oleh Ahmad Tohari telah mampu menunjukkan karakteristik pribadi yang unik, sanggup memberikan penginderaan yang jelas dan terasa begitu nyata, lengkap dengan segala pelukisan gambaran, penempatan, dan perwatakannya masing-masing tokoh tersebut.
Berdasarkan hal di atas, dalam penelitian ini penulis tertarik untuk meneliti tokoh male feminis dan kontra male feminis dalam novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari berdasarkan teori male feminis dan kontra male feminis.

{ 0 komentar... read them below or add one }

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...